Opinion is the rights of every person. But when the opinion was conveyed to the public should be charged with the responsibility. At least the responsibility to maintain the privacy of others.
True limits of the freedom of private rights are personal rights of others. This certainly we have seen since learned in elementary school, because frankly this material also had me get in a classroom elementary school.
For it really surprising that this is not recognized by someone who menyenyam education so high. Very dangerous when a person with high education and the mind can affect other people massively publicize opinion based on superficial information and knowledge outside the region.
Unfortunately, rice has become porridge, in a column in the daily Banjarmasin Post, Dr. Mujiburrahman is widely recognized as one of South Kalimantan scholar, wrote an article titled, "A Choice".
When reading the early papers can already be concluded that the purpose of this paper is as a response to significant events related to the death of a charismatic cleric who owned South Kalimantan and even Indonesia. For Abah berpulangnya Banjar Regency Teacher Anang Djazouly Seman is a big loss for the umpteenth time, having previously Abah Teacher Zaini Abdul Ghani died.
As a gift or a form of taste sensitivity to events of great significance for the people of South Kalimantan, this article should be a repertoire of solace and remember good things about the deceased. But what content meretricious writings do not show it.
Seven Alenia early enough to give the impression that the author did not have knowledge about the figure Abah Anang (close calls Abah teacher Anang Djazouly Seman). Even with very firmly in the seventh Alenia disclosed, "I myself have never met let alone get his advice. But judging from the pictures it appears that he is a friendly and fun ".
With limited knowledge like this then it can be imagined then opinion as to what will appear in the whole writing.
A fundamental question, we judge it proper personal glimpse only from photos or info. If personal opinion is only disclosed to a limited circle or just for your own personal will not be a serious problem. But while this is certainly a widely publicized public's right to respond.
And my response above article is far from being respected but instead questioned the attitude and actions during his life Anang Abah.
A critical study of the great steps are important and constructive. However, critical studies should be based on the objectivity of thought and power of analysis so that the study can be accounted for. Data and facts should be owned as much as possible. Of course things like this should have understood the author.
The rest of the critical studies must also be delivered with high sensitivity with respect to ethical propriety. While the majority of people grieving and not past their 40 days of his departure, it proper if there is a connection between him with a certain group or person asking aloud, "Why did he support it or support it?".
Moreover, later accompanied by a painful assessment of the liver, such as "My suspicion is good, he thought the authorities took more effectively achieve the noble goals than the opposition. That's his choice. Each choice there are risks, which are free to choose neutral, but can not do much. Who come in can do, but could slide into the valley insult ". And this is even used as the basis of the title of this paper.
Together with this, I urge all of us to respect the choice the people for something they believe. And even if different please, but convey a good and dignified manner.
The height and position of science is not a guarantee for us to be better than some others. And do not want to be forced also issued an opinion simply because the demands of deadlines or consequences time work, because the result would reduce the degree of our glory.
Abah Like Sam, he was a noble in the eyes of society because of the simplicity of attitude and behavior. He received anyone who comes, regardless of origin, the origin and degrees. And most importantly he never judge people, although he has the ability for it.
Teriring prayer may Allah accept mengampun deeds and sins and mistakes during his life both intentionally and unintentionally. And we are left to learn and follow all the good things that he inherited. Amin
Click here to Indonesian Language
Mulia karena Sikap dan Perilaku
مجيد في المواقف والسلوك
الرأي هو حق كل شخص. ولكن ينبغي أن تكون مشحونة عندما تم نقل رأي الجمهور مع المسؤولية. على الأقل مسؤولية الحفاظ على خصوصية الآخرين.
الحدود الحقيقية للحرية والحقوق الخاصة والحقوق الشخصية للآخرين. هذا بالتأكيد لقد شهدنا منذ تعلمت في المدرسة الابتدائية ، وذلك لأن هذه المادة بصراحة كان لي أيضا الحصول على الفصول الدراسية في مدرسة ابتدائية.
لأنه من المستغرب حقا أن هذا لم يتم التعرف من قبل شخص التعليم العالي بذلك. خطير جدا عندما يكون الشخص مع التعليم العالي والعقل يمكن أن تؤثر على الآخرين نشر على نطاق واسع الرأي استنادا إلى المعلومات والمعرفة السطحية من خارج المنطقة.
للأسف ، أصبح الأرز عصيدة ، في عمود في صحيفة واشنطن بوست بانجارماسين ، ومن المسلم به على نطاق واسع الدكتور باعتبارها واحدة من جنوب كاليمانتان الباحث ، كتب مقالا بعنوان "خيار".
Mulia karena Sikap dan Perilaku
(عيش كريما أو مت شهيدا) "Hiduplah kamu dengan kemuliaan atau matilah kamu dengan perjuangan"
Beropini adalah hak asasi setiap orang. Namun ketika opini tersebut disampaikan ke khalayak ramai seharusnya diisi dengan tanggung jawab. Setidaknya tanggung jawab untuk menjaga hak pribadi orang lain.
Sejatinya batasan dari kebebasan atas hak pribadi adalah hak pribadi orang lain. Hal ini tentu telah kita pahami sejak belajar di bangku sekolah dasar, karena terus terang materi ini juga sudah saya dapatkan di kelas 1 Sekolah Dasar.
Untuk itu sungguh mengherankan kalau hal ini tidak disadari oleh seseorang yang menyenyam pendidikan sedemikian tinggi. Sangat berbahaya ketika seseorang yang berpendidikan tinggi dan hasil pikirannya dapat mempengaruhi orang lain secara massif memublikasikan opini yang berlandaskan informasi yang dangkal dan di luar wilayah pengetahuannya.
Dengan keterbatasan pengetahuan seperti ini maka sudah bisa dibayangkan kemudian opini seperti apa yang akan muncul dalam keseluruhan tulisan.
Pertanyaan mendasar, pantaskah kita menilai pribadi seseorang hanya dari foto atau sekilas info. Kalau pendapat pribadi ini hanya diungkapkan untuk kalangan terbatas atau hanya untuk pribadi sendiri tidak akan menjadi persoalan serius. Tetapi ketika ini dipublikasikan secara luas tentu menjadi hak publik untuk menanggapi.
Dan tanggapan saya atas artikel tersebut jauh dari kesan menghormati tapi justru mempertanyakan sikap dan langkah Abah Anang semasa hidup beliau.
Sebuah kajian kritis bagi langkah-langkah tokoh besar memang penting dan membangun. Namun kajian kritis harus dilandasi oleh obyektivitas berpikir dan kekuatan analisa sehingga kajian tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Data dan fakta harus dimiliki sebanyak-banyaknya. Tentu hal-hal seperti ini mestinya sudah dipahami penulis.
Selebihnya kajian kritis juga haruslah disampaikan dengan sensitivitas yang tinggi dengan menjunjung etika kesopanan. Disaat sebagai besar masyarakat berduka dan belum lewat masa 40 hari kepergian beliau, pantaskah kalau ada yang menghubung-hubungkan beliau dengan golongan atau orang tertentu sambil bertanya lantang, “Mengapa dia mendukung ini atau mendukung itu?”.
Apalagi kemudian disertai dengan penilaian yang sangat menyakitkan hati, seperti “sangkaan baik saya adalah, beliau menganggap menggandeng penguasa lebih efektif mencapai tujuan-tujuan mulia ketimbang menjadi oposisi. Itulah pilihan beliau. Setiap pilihan ada risikonya, yang memilih netral memang bebas, tetapi tak bisa berbuat banyak. Yang ikut masuk bisa berbuat, tetapi bisa terjerumus ke lembah nista”. Dan ini bahkan dijadikan dasar judul tulisan ini.
Bersama ini, saya mengajak marilah kita bersama menghormati pilihan masyarakat atas sesuatu yang mereka yakini. Dan kalaupun berbeda silakan, namun sampaikanlah dengan cara yang baik dan bermartabat.
Ketinggian ilmu dan kedudukan tidaklah menjadi jaminan bagi kita menjadi lebih baik dari sebagian yang lain. Dan janganlah pula mau dipaksa mengeluarkan pendapat hanya dengan alasan tuntutan deadline waktu ataupun konsekwensi kerja, karena hasilnya akan menurunkan derajat kemuliaan kita.
Seperti halnya Abah Anang, beliau menjadi mulia di mata masyarakat karena kesederhanaan sikap dan perilaku. Beliau menerima siapa saja yang datang tanpa memandang asal, usul dan derajat. Dan yang terpenting beliau tidak pernah menilai orang, meski beliau punya kemampuan untuk itu.
Teriring doa semoga Allah menerima amal ibadah dan mengampun dosa dan kesalahan beliau semasa hidup baik sengaja dan tidak sengaja. Dan kita yang ditinggalkan dapat belajar dan meneladani semua hal baik yang beliau wariskan. Amin.
الرأي هو حق كل شخص. ولكن ينبغي أن تكون مشحونة عندما تم نقل رأي الجمهور مع المسؤولية. على الأقل مسؤولية الحفاظ على خصوصية الآخرين.
الحدود الحقيقية للحرية والحقوق الخاصة والحقوق الشخصية للآخرين. هذا بالتأكيد لقد شهدنا منذ تعلمت في المدرسة الابتدائية ، وذلك لأن هذه المادة بصراحة كان لي أيضا الحصول على الفصول الدراسية في مدرسة ابتدائية.
لأنه من المستغرب حقا أن هذا لم يتم التعرف من قبل شخص التعليم العالي بذلك. خطير جدا عندما يكون الشخص مع التعليم العالي والعقل يمكن أن تؤثر على الآخرين نشر على نطاق واسع الرأي استنادا إلى المعلومات والمعرفة السطحية من خارج المنطقة.
للأسف ، أصبح الأرز عصيدة ، في عمود في صحيفة واشنطن بوست بانجارماسين ، ومن المسلم به على نطاق واسع الدكتور باعتبارها واحدة من جنوب كاليمانتان الباحث ، كتب مقالا بعنوان "خيار".
Mulia karena Sikap dan Perilaku
(عيش كريما أو مت شهيدا) "Hiduplah kamu dengan kemuliaan atau matilah kamu dengan perjuangan"
Beropini adalah hak asasi setiap orang. Namun ketika opini tersebut disampaikan ke khalayak ramai seharusnya diisi dengan tanggung jawab. Setidaknya tanggung jawab untuk menjaga hak pribadi orang lain.
Sejatinya batasan dari kebebasan atas hak pribadi adalah hak pribadi orang lain. Hal ini tentu telah kita pahami sejak belajar di bangku sekolah dasar, karena terus terang materi ini juga sudah saya dapatkan di kelas 1 Sekolah Dasar.
Untuk itu sungguh mengherankan kalau hal ini tidak disadari oleh seseorang yang menyenyam pendidikan sedemikian tinggi. Sangat berbahaya ketika seseorang yang berpendidikan tinggi dan hasil pikirannya dapat mempengaruhi orang lain secara massif memublikasikan opini yang berlandaskan informasi yang dangkal dan di luar wilayah pengetahuannya.
Dengan keterbatasan pengetahuan seperti ini maka sudah bisa dibayangkan kemudian opini seperti apa yang akan muncul dalam keseluruhan tulisan.
Pertanyaan mendasar, pantaskah kita menilai pribadi seseorang hanya dari foto atau sekilas info. Kalau pendapat pribadi ini hanya diungkapkan untuk kalangan terbatas atau hanya untuk pribadi sendiri tidak akan menjadi persoalan serius. Tetapi ketika ini dipublikasikan secara luas tentu menjadi hak publik untuk menanggapi.
Dan tanggapan saya atas artikel tersebut jauh dari kesan menghormati tapi justru mempertanyakan sikap dan langkah Abah Anang semasa hidup beliau.
Sebuah kajian kritis bagi langkah-langkah tokoh besar memang penting dan membangun. Namun kajian kritis harus dilandasi oleh obyektivitas berpikir dan kekuatan analisa sehingga kajian tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Data dan fakta harus dimiliki sebanyak-banyaknya. Tentu hal-hal seperti ini mestinya sudah dipahami penulis.
Selebihnya kajian kritis juga haruslah disampaikan dengan sensitivitas yang tinggi dengan menjunjung etika kesopanan. Disaat sebagai besar masyarakat berduka dan belum lewat masa 40 hari kepergian beliau, pantaskah kalau ada yang menghubung-hubungkan beliau dengan golongan atau orang tertentu sambil bertanya lantang, “Mengapa dia mendukung ini atau mendukung itu?”.
Apalagi kemudian disertai dengan penilaian yang sangat menyakitkan hati, seperti “sangkaan baik saya adalah, beliau menganggap menggandeng penguasa lebih efektif mencapai tujuan-tujuan mulia ketimbang menjadi oposisi. Itulah pilihan beliau. Setiap pilihan ada risikonya, yang memilih netral memang bebas, tetapi tak bisa berbuat banyak. Yang ikut masuk bisa berbuat, tetapi bisa terjerumus ke lembah nista”. Dan ini bahkan dijadikan dasar judul tulisan ini.
Bersama ini, saya mengajak marilah kita bersama menghormati pilihan masyarakat atas sesuatu yang mereka yakini. Dan kalaupun berbeda silakan, namun sampaikanlah dengan cara yang baik dan bermartabat.
Ketinggian ilmu dan kedudukan tidaklah menjadi jaminan bagi kita menjadi lebih baik dari sebagian yang lain. Dan janganlah pula mau dipaksa mengeluarkan pendapat hanya dengan alasan tuntutan deadline waktu ataupun konsekwensi kerja, karena hasilnya akan menurunkan derajat kemuliaan kita.
Seperti halnya Abah Anang, beliau menjadi mulia di mata masyarakat karena kesederhanaan sikap dan perilaku. Beliau menerima siapa saja yang datang tanpa memandang asal, usul dan derajat. Dan yang terpenting beliau tidak pernah menilai orang, meski beliau punya kemampuan untuk itu.
Teriring doa semoga Allah menerima amal ibadah dan mengampun dosa dan kesalahan beliau semasa hidup baik sengaja dan tidak sengaja. Dan kita yang ditinggalkan dapat belajar dan meneladani semua hal baik yang beliau wariskan. Amin.
Subscribe to:
Comments (Atom)