Mulia karena Sikap dan Perilaku

مجيد في المواقف والسلوك

الرأي هو حق كل شخص. ولكن ينبغي أن تكون مشحونة عندما تم نقل رأي الجمهور مع المسؤولية. على الأقل مسؤولية الحفاظ على خصوصية الآخرين.

الحدود الحقيقية للحرية والحقوق الخاصة والحقوق الشخصية للآخرين. هذا بالتأكيد لقد شهدنا منذ تعلمت في المدرسة الابتدائية ، وذلك لأن هذه المادة بصراحة كان لي أيضا الحصول على الفصول الدراسية في مدرسة ابتدائية.

لأنه من المستغرب حقا أن هذا لم يتم التعرف من قبل شخص التعليم العالي بذلك. خطير جدا عندما يكون الشخص مع التعليم العالي والعقل يمكن أن تؤثر على الآخرين نشر على نطاق واسع الرأي استنادا إلى المعلومات والمعرفة السطحية من خارج المنطقة.

للأسف ، أصبح الأرز عصيدة ، في عمود في صحيفة واشنطن بوست بانجارماسين ، ومن المسلم به على نطاق واسع الدكتور باعتبارها واحدة من جنوب كاليمانتان الباحث ، كتب مقالا بعنوان "خيار".


Mulia karena Sikap dan Perilaku


(عيش كريما أو مت شهيدا) "Hiduplah kamu dengan kemuliaan atau matilah kamu dengan perjuangan"

Beropini adalah hak asasi setiap orang. Namun ketika opini tersebut disampaikan ke khalayak ramai seharusnya diisi dengan tanggung jawab. Setidaknya tanggung jawab untuk menjaga hak pribadi orang lain.

Sejatinya batasan dari kebebasan atas hak pribadi adalah hak pribadi orang lain. Hal ini tentu telah kita pahami sejak belajar di bangku sekolah dasar, karena terus terang materi ini juga sudah saya dapatkan di kelas 1 Sekolah Dasar.

Untuk itu sungguh mengherankan kalau hal ini tidak disadari oleh seseorang yang menyenyam pendidikan sedemikian tinggi. Sangat berbahaya ketika seseorang yang berpendidikan tinggi dan hasil pikirannya dapat mempengaruhi orang lain secara massif memublikasikan opini yang berlandaskan informasi yang dangkal dan di luar wilayah pengetahuannya.

Dengan keterbatasan pengetahuan seperti ini maka sudah bisa dibayangkan kemudian opini seperti apa yang akan muncul dalam keseluruhan tulisan.

Pertanyaan mendasar, pantaskah kita menilai pribadi seseorang hanya dari foto atau sekilas info. Kalau pendapat pribadi ini hanya diungkapkan untuk kalangan terbatas atau hanya untuk pribadi sendiri tidak akan menjadi persoalan serius. Tetapi ketika ini dipublikasikan secara luas tentu menjadi hak publik untuk menanggapi.

Dan tanggapan saya atas artikel tersebut jauh dari kesan menghormati tapi justru mempertanyakan sikap dan langkah Abah Anang semasa hidup beliau.

Sebuah kajian kritis bagi langkah-langkah tokoh besar memang penting dan membangun. Namun kajian kritis harus dilandasi oleh obyektivitas berpikir dan kekuatan analisa sehingga kajian tersebut dapat dipertanggungjawabkan. Data dan fakta harus dimiliki sebanyak-banyaknya. Tentu hal-hal seperti ini mestinya sudah dipahami penulis.

Selebihnya kajian kritis juga haruslah disampaikan dengan sensitivitas yang tinggi dengan menjunjung etika kesopanan. Disaat sebagai besar masyarakat berduka dan belum lewat masa 40 hari kepergian beliau, pantaskah kalau ada yang menghubung-hubungkan beliau dengan golongan atau orang tertentu sambil bertanya lantang, “Mengapa dia mendukung ini atau mendukung itu?”.

Apalagi kemudian disertai dengan penilaian yang sangat menyakitkan hati, seperti “sangkaan baik saya adalah, beliau menganggap menggandeng penguasa lebih efektif mencapai tujuan-tujuan mulia ketimbang menjadi oposisi. Itulah pilihan beliau. Setiap pilihan ada risikonya, yang memilih netral memang bebas, tetapi tak bisa berbuat banyak. Yang ikut masuk bisa berbuat, tetapi bisa terjerumus ke lembah nista”. Dan ini bahkan dijadikan dasar judul tulisan ini.

Bersama ini, saya mengajak marilah kita bersama menghormati pilihan masyarakat atas sesuatu yang mereka yakini. Dan kalaupun berbeda silakan, namun sampaikanlah dengan cara yang baik dan bermartabat.

Ketinggian ilmu dan kedudukan tidaklah menjadi jaminan bagi kita menjadi lebih baik dari sebagian yang lain. Dan janganlah pula mau dipaksa mengeluarkan pendapat hanya dengan alasan tuntutan deadline waktu ataupun konsekwensi kerja, karena hasilnya akan menurunkan derajat kemuliaan kita.

Seperti halnya Abah Anang, beliau menjadi mulia di mata masyarakat karena kesederhanaan sikap dan perilaku. Beliau menerima siapa saja yang datang tanpa memandang asal, usul dan derajat. Dan yang terpenting beliau tidak pernah menilai orang, meski beliau punya kemampuan untuk itu.

Teriring doa semoga Allah menerima amal ibadah dan mengampun dosa dan kesalahan beliau semasa hidup baik sengaja dan tidak sengaja. Dan kita yang ditinggalkan dapat belajar dan meneladani semua hal baik yang beliau wariskan. Amin.

No comments:

Post a Comment